Bagaimanakah rasanya hidup dalam kecemasan?, padahal kecemasan itu kita ciptakan sendiri. Saya rasa kita sering mengalami hal ini, sungguh aneh dan lucu mencemaskan hal yang dibuat diri sendiri.
Dulu sewaktu kelas satu SD saya selalu memberikan target kepada diri sendiri bahwa nanti saya harus Juara kelas, begitu juga kelas dua, kelas tiga dan seterusnya, sepanjang tahun saya memegang janji itu, setiap hari dibayangi kecemasan bagaimana kalau target itu tidak tercapai.
Indah memang membayangkan hari pembagian raport dengan kedua orang tua datang ke sekolah menerima raport hasil kerja keras saya selama setengah setahun. Pada hari itu biasanya sekolah diliburkan, tetapi saya selalu ikut ke sekolah yang tentu saja untuk mendengarkan pengumuman langsung, terasa puas dang bangga ketikan wali kelas mengumumkan bahwa peringkat 1 jatuh ke saya(lagi).
Begitu juga dengan olahraga, kebetulan saya suka sekali dengan sepakbola, cita-cita saya dulu adalah menjadi seorang pemain sepak bola, senang sekali rasanya seandainya bisa bermain di San Siro, markas klub kesayangan saya, AC Milan. Oleh karena impian itu saya menjadi rajin latihan dengan bayangan menjadi pemain bola terkenal tersebut di angan2.
Hal itu berlangsung terus menerus di sebagian besar hidup saya, ingin menjadi yang terbaik itulah intinya. Capek rasanya jika hidup dengan persaan itu terus menerus. Dengan pergulatan batin tersebut saya menjadi berpikir, berusaha menjadi yg terbaik itu bagus, tetapi kecemasan dalam mencapai itu tidak bagus, hal itu menyebabkan kita tidak menikmati proses dalam menjapai tujuan tersebut.
taruhlah kalau saya memang ingin merencanakan hidup. Dengan kondisi itu berarti kesukssan kita dalam idup yg sangat singkat ini cuma sedikit dong, sungguh sangat sayang untuk dilakukan.
1. Seperti juara kelas
2. Masuk universitas top
3. Dapat cewek keren :p
4. Lulus cumlaude
5. Setelah lulus dapat Karir yang bagus
Seumpama saya berhasil menggapai semua itu saya cuma dapat sukses sebanyak 5 Kali saja dalam sisa hidup saya, dan saya harus mengorbankan indahnya hari-hari diantara 5 proses tersebut, saya bisa hangout sama temen2, bisa nonton Arema VS Persija, bisa selingkuh sama cewek2 :))
Dari situ saya mulai mengerti/atau ini yang dinamakan menuju kedewasaan, bahwa sebaiknya saya tidak perlu menetapkan target secara serius, hanya lakukan saja yg terbaik hari ini dan menunggu sureprise dari yg maha kuasa, yah inilah poin pentingnya, sureprise. Anda senang sureprise kan? dibeliin mainan, diberi macbook oleh bos, dapet bonus project.. hmm nyummi… saya rasa hal itu akan lebih menyenangkan daripada kita mengumpulan duit selama beberapa tahun untuk membeli macbook. Yah disitulah poinnya kita merencanakan untuk mendapatkan sesuatu, dan yg kedua kita do the best dan tiba2 jrenk dapat sureprise. Asyik bukan?
jadi mari kita lakukan yg terbaik dan menanti kejutan itu, good luck.
2 comments ↓
hello, salam kenal
wah baru liat tulisanmu yang ini cok, baguus..
Leave a Comment